MANAJEMEN HALAQOH

16 05 2010

Oleh : Agus Supriyadi. Lc

“Kami ceritakan kisah meraka kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dn Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (Q.S. Al_Kahfi [18] : 13)

Dakwah sekolah mempunyai peranan yang sangat signifikan dalam perkembangan da’wah di Indonesia. Hal ini tidak berlepas pula dari potensi yang dimilikinya seperti ayat diatas. Secara khusus ada beberapa alasan yang menyebabkan segmen da’wah sekolah sangat penting bagi keberlangsungan da’wah di Indonesia, antara lain : Kedudukan dan peranan pelajar sangat besar jumlahnya, berada dalam lingkungan sekolah 6-8 jam sehari selama 6 hari, serta tersebar sampai lingkungan kecamatan. Jika mereka tertangani dengan baik dan ditata dengan cakap, maka akan dapat memberikan kontribusi yang sangat nyata bagi gerakan da’wah. Terutama infrastruktur kaderisasi yang menembus hingga akar rumput (Kecamatan). Potensi selanjutnya adalah keberhasilan da’wah sekolah dan kampus akan sangat menunjang keberhasilan da’wah ditingkat selanjutnya yaitu dakwah kampus. Bahkan tidk berlebihan jika dikatakan bahwa da’wah sekolah adalah infrastruktur bagi da’wah kampus apalagi dalam kenyataannya, para Aktivis Dakwah Kampus (ADK) adalah mantan Aktivis Dakwah Sekolah (ADS) yang matang dan menjadi penggerak dalam da’wah sekolahnya. Murabbi, orang yang mempunyai peranan membentuk, menata dan mengendalikan Halaqah Da’wah Sekolah (DS), harus cakap dalam upaya merealisasikan keberhasilan yang disebut diatas. Oleh karena itu sebelum menata Halaqah DS para Murabbi harus memahami karakater-karakater khusus yang ada dilingkungan da’wah sekolah. Da’wah Sekolah merupakan komunitas usia awal pemuda yang lazim disebut ABG (Anak Baru Gede), Berada pada masa-masa transisi/pubertas, masa-masa sulit karena kematangan biologis dan seksual pada diri mereka tidak diimbangi dengan mengikuti trend yang ada dalam lingkup mereka DS, Akan tetapi karakteristik diatas harus tetap berada dalam koridor syar’I dan manhaj da’wah, Sehingga tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan tujuan dari Tarbiah Islamiah itu sendiri.

HALAQAH

 Halaqah adalah sarana utama bagi peserta Tarbiyah dan sekaligus sebagai media untuk merealisasikan kurikulum-kurikulum Tarbiyah Islamiyah, Akan tetapi halaqah harus dilengkapi dengan sarana-sarana tambahan antara lain Rihlah, Mukhoyyam, Dauroh, Seminar, Ta’lim, Mabit dan Lain-lain.
Selain merupakan salah satu sarana Tarbiyah, Halaqah juga dapat didefinisikan sebagai satu proses interaksi antara murabbi dan mutarobbi dalam dinamika kelompok dalam upaya mencapai tujuan Tarbiyah. Walaupun cara mentarbiyah seseorang melalui da’wah fardiyah, misalkan halaqah, merupakan metode yang paling efektif karena disana terjadi proses interaksi yang intensif antara anggota halaqah, Sehingga diharap saling mempengaruhi melatih kebersamaan, Tausyiah dalam lingkungan amal jama’i. Dalam buku “Adab Halaqah”, Dr. Abdullah Qodiri menegaskan bahwa sasaran utama tarbiyah dalam sebuah halaqah haruslah bertujuan akhir mengokohkan hubungan dengan Allah, mau beribadah kepada_Nya dengan cara yang diridhoi_Nya. Karena beribadah kepada Allah adalah tujuan asasi diciptakan manusia.

HALAQAH SARANA PEMBENTUKAN PRIBADI MUSLIM

Halaqah sebagai sarana utama Tarbiyah berfungsi sebagai media pembentukan pribadi muslim yang sholeh, pribadi-pribadi yang terbentuk diharapkan memiliki sifat terpuji, perangai islam yang asasi, tidak terkotori oleh bentuk-bentuk kemusyrikan dan tidak memiliki hubungan dengan pihak-pihak yang memusuhi isalm. Ada 10 karakter pribadi muslim yang sholeh yang harus dicapai dalam proses Tarbiyah, antara lain : Saliimul aqidah (Aqidah ynag bersih) harus merujuk kepada Al~Quran dan Sunnah, tidak berhubungna dan meminta tolong pada jin, tidak meramal nasib, pergi kedukun dan meminta berkat kekuburan.

Kemudian ciri Shahihul ibadah (Ibadah yang shohih/ benar), Bila ia berani adzan, ihsan dalam thoharoh, bersemangat dalam sholat berjama’ah dimasjid, berpuasa fardhu, Qiyamulail seminggu sekali, memiliki buku agenda harian, tilawah Quran. Berikutnya matinul khuluk (Akhlak yang kokoh), terlihat dalam sikap tidak berperilaku takabur, tidak taqlid, tidak berdusta, tidak adu domba, tidak mematahkan pembicaraan orang lain. Selanjutnya karakteristik qadirun ‘alal kasbi (mandiri), tergambar dalam menjauhi sumber penghasilan yang haram, giat bekerja dan rajin zakat, menjauhi riba. Mutsaqaful fikri (Intelektual yang berkembang), bila pribadi yang cakap dalam membaca dan manulis, berwawasan luas, pandai menggunakan logika berfikir yang logis dan metode logis. Ciri Qowiyyul jismi (Tampak pada kebersihan badan dan pakaian, kontinyu olahraga 2 jam setiap pekan, bangun sebelum fajar, menghindari rokok dan minuman yang merangsang syaraf secra berlabihan. Selanjutnya mujahidun linafsihi, yaitu menjauhi segala yang haram, tempat-tempat hiburan dan maksiat. Sedangkan manhazamu fi syu’nihi tercermin bila peserta halaqah mulai memperbaiki penghasilan kearah lebih islami serta kualitas kerja yang rapih dan professional. Dan selanjutnya haristun ‘ala waqtihi (menjaga dan menghargai waktu). Tampak bila pribadi senantiasa bangun pagi, menghindari kesia-siaan, belajar dan berda’wah. Ciri terakhir adalah nafi’un lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain), tergambar dari sifat berpartisipasi dalam kebaikan, seperti aktif dalam bakti social masyarakat, kerja bakti, membantu orang yang membutuhkan.

RUKUN HALAQAH

Halaqah sarana Tarbiyah yang utama harus menunaikan rukun-rukun dalam upaya mencapai tujuan Tarbiyah, yaitu : Ta’aruf, Tafahum, Takaful. Rukun pertama : Ta’aruf (saling mengenal), sbuah awal yang ada dalam sebuah halaqah. Dasar Da’wah islam adalah saling mengenal, seyogyanya setiap peserta saling mengenal dan berkasih saying dalam naungan ridho Allah ~Subhanahu wata’ala~. Ayat-ayat Al~Quran seperti Q.S. 49 : 10 dan 13 serta Q.S. 3 : 103 memberikan arahan pokok bagaimana seorang harus saling mengenal, ditambah dengan hadits Rasulullah : “Seorang muslim itu bersaudara dengan yang lainnya seperti jasad yang satu”. Ta’aruf melingkupi saling mengenal hal-hal yang berkaitan dengan fisik,seperti : Nama, kelas, kegemaran, keadaan keluarga, tempat asal dan Lain-lain. Rukun kedua : Tafahum (Saling memahami). Yang dimaksud dengan tafahum adalah menghilangkan factor yang menyebabkan kekeringan dan keretakan hubungan, Cinta kasih, dam lembut Hati. Jika sudah terbentuk maka, tafahum akan memberikan dampak berupa bekerja demi mencapai kedekatan paradigma. Rukun ketiga : Takaful (Saling menaggung beban), hendaknya dilatih untuk saling memikul beban saudaranya. Rasulullah bersabda : “seseorang yang berjalan dalam rangka memenuhi hajat saudaranya lebih baik baginya dari itikaf satu bulan dimasjidku.”

Takaful : 1. Saling mencintai. Adanya ta’liful qulub. 2. Saling tolong menolong sesama muslim. 3. Saling menjamin (takaful) dalam lingkup halaqah baik dengan murabbi maupun dengan sesama peserta halaqah. Agar sebuah halaqoh dapat dikategorikan halaqah muntiyah tentunya ada aturan yang harus ditaati semua komponen baik murobbi dan mutarobbi.

Dr. Abdullah Qodiri dalam buku Adab Halaqah menyebutkan tentang adab-adab tersebut, yaitu :

  1. Serius
  2. Berkemauan keras
  3. Istiqamah 
  4. Jauh dari ta’asuh
  5. Jauh dari Ghibah
  6. Malakukan Ishlah
  7. Tidak menyia-nyiakan waktu saat halaqah.

AGENDA SAAT AKTIFITAS HALAQOH

Agenda aktifitas halaqah sesuatu yang harus dirancang dan direncanakan dengan matang. Ayat Al~Quran surat Al~Hasyr ayat 18 mengingatkan bahwa agenda halaqah sesuatu yang harus di”planning” agar tidak sekedar menjadi tempat temu kangen, ngobrol dan sedikit materi Tarbiyah dan akhirnya ditutup dengan makan. Seorang murabbi harus merubah paradigma “Ah…,Bagaimana nanti” menjadi “Nantinya Bagaimana”. Agenda aktifitas ini dalam rentang waktu perpekan. Yang jelas,

Agenda aktifiitas halaqah secara tertib harus dilaksanakan sebagai berikut :

  1. Iftitah, Berupa taujih dari murobbi atau sekilas info mengenai fenomena yang terjadi selama 1 minggu terakhir. 
  2. Infak
  3. Tilawah dan tadabur
  4. Talaqi madah
  5. Mutaba’ah
  6. Ta’limat, pengumuman tentang rencana-rencana berikut dan info-info penting
  7. Penutup

MENATA HALAQAH

Keberhasilan pembentukan halaqah muntiyah ditentukan oleh 3 faktor dominan, yaitu : 1. Murobbi. 2. Mutarobbi atau mad’u. 3. Faktor Penataan halaqah atau manajemen halaqah, yang disebut idarah halaqah. Kemampuan seorang murabbi yang cakap dalam menata halaqah yang dimilikinya tentu saja sangat diperlukan. Hal ini perlu didukung oleh mekanisme penataan manhaji didalam Liqo para murabbi. Oleh karena itu sehat liqo para murabbi yang menentukan bagi pembentukan yang muntiyah. Oleh karena itu konsep idarah halaqah harus secara berjenjang tertata dengan baik, agar tidak terjadi kesalahan dan kelemahan.

HOLAQOH AKHWAT

Kenapa hal ini perlu penekanan khusus, karena tidak bisa dinafikan bahwa peserta Tarbiyah terbesar adalah komunitas akhwat, dan baik buruknya kualitas ummat ada ditangan mereka. Seyogyanya seorang murobbi bagi halaqah ini adalah akhwat. Karena hanya wanitalah yang mengetahui secara merdeka kekhasan kejiwaan seorang wanita. Kecuali dalam keadaan terpaksa, ketiadaan akhwat yang menanganinya. Walaupun tidak ada perbedaan tugas, kewjiban dan hak-hak selaku hamba Allah, Wanita tetap mamiliki hak dan kewajiban yang spesifik sebagai seorang wanita, istri dan ibu, Sehingga selain diajarkan hal-hal pokok seperti aqidah, ibadah, akhlak, kepada akhwat harus diberikan materi-materi yang dapat mengasah kawanitaannya seperti dauroh mar’ah, Tarbiyatul aulad, Fiqh nisa, thaharoh, biografi wanita-wanita teladan dalam islam. Bahkan perlu ditambah pula pekan-pekan khusus seperti pekan setiap bulan atau gabungan dari beberapa halaqah untuk membuat dauroh fanniyah yang bebrkaitan dengan ke “Rabbatul bait” an (Kerumah tanggaan)., Seperti memasak menjahit, menata rumah dan lain-lain. Sehingga tidak terjadi fenomena aktifis yang nanya bagaiman acara merebus air dan memasak indomie. Proses pembinaan perlu memperhatikan berupa atthifiyyah dan kepekaan wanita dalam bersegera menyambut nilai-nilai kebaikan, namun ancaman berupa ketidakstabilan emosi dan friksi-friksi dengan murabbi atau dengan sesama peserta halaqah perlu diwaspadai dan disiasati.Seyogyanya halaqoh akhwat perlu ditata, direncanakan dan ditangani secara lebih matang dan serius oleh tenaga-tenaga pembina yang handal dan professional.

PENUTUP

Keberhasilan sebuah proses tarbiyah ditentukan oleh hasil dari halaqah-halaqah yang muntiyah. Sedangkan halaqah muntiyah dihasilkan dari murabbi yang cakap dan penataan yang baik, serta mengerahkan seluruh amal serta urusan akhir kepada Allah ~Subhanahu wata’ala~.


Aksi

Information

3 responses

26 06 2010
chie135

ralat, brother, sepertinya itu: Rabbatul bait, bukan Rabbatul baiat😉

ohya salam kenal…
syukran artikelnya, tapi perlu kajian lebih mendalam lagi nih soal ADK dan ADS (saya masi perlu penjelasan sebenarnya)

28 06 2010
blogumam

Salam kenal juga.
Jazakillah sudah berkenan mampir dan mw mengkoreksi.
Pdahal bikin ini blog cuma bwt iseng2 dan lebih sering gak keurus (pengalaman kmaren2 sih).

Iy salah tulis seharusnya “Rabbatul Bait”.

untuk artikel ADK dan ADS yang mana ya..?

3 01 2011
2010 in review « BlogUmam

[…] MANAJEMEN HALAQOH May 2010 2 comments 5 […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: