Skala Prioritas Amal

5 07 2010

Secara umum skala prioritas suatu amal dalam pandangan dan timbangan fiqih prioritas perlu memperhatikan beberapa kaidah yang bisa memaksimalkan amal tersebut. Kaidah-kaidah ini pula yang bisa digunakan agar amal-amal yang dilakukan memiliki kualitas yang baik. Diantara kaidah dan skala prioritas amal adalah:

  1. Memprioritaskan amal yang kontinue, terus menerus, berkesinambungan dibanding amal yang teputus.
  2. Memprioritaskan amal yang manfaatnya luas bagi orang banyak dibanding amal yang manfaatnya terbatas.
  3. Memprioritaskan amal yang manfaatnya panjang atau lama dibanding amal yang manfaatnya pendek.
  4. Memprioritaskan amal-amal hati dibanding amal-amal yang sifatnya dzohir atau fisik.
  5. Memprioritaskan amal sholeh disaat banyak fitnah.

Kelima kaidah tersebut seandainya bisa dipergunakan dengan sebaik-baiknya, insya Allah membuat sebuah amal yang dilakukan jauh dari kesia-siaan, berdampak atau menimbulkan manfaat yang luas dan panjang, serta yang paling penting mudah-mudahan amal tersebut bisa diridhoi dan diterima oleh Allah.

Sedikit penjelasan terkait kelima point dalam skala prioritas dalam beramal,

  

1. Memprioritaskan amal yang kontinue, terus menerus, berkesinambungan dibanding amal yang terputus.

Dalam sebuah hadist Riwayat Bukhari dijelaskan

احب الاعما ل الي الله ادومها وا ن قل

“Allah menyukai amal yang berkelanjutan sekalipun sedikit.”

Dalam hadist tersebut tersirat makna bahwasanya yang menjadi penekanan dalam sebuah amal adalah pada “keberlanjutan” atau “kebersinambungan” amalnya, walaupun itu sedikit. Akan lebih baik lagi jika amal-amal yang kita lakukan itu banyak dan berkesinambungan. Jangan sampai kita berbuat sebaliknya, kita banyak beramal dalam sekali waktu, namun amal tersebut terputus dan tidak berkesinambungan. Ibarat orang bersedekah 100rb dalam satu waktu. Walaupun itu baik, namun Allah lebih menyukai sedekah atau amal yang kontinue, seperti bersedekah seribu rupiah namun kontinue.

Dari Abdullah bin Amru bin Al Ash berkata: Rasulullah SAW berkata, Ya Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dahulu ia shalat malam lalu dia tidak mengerjakannya lagi. (Muttafaqun Alaihi)

Oleh karenanya Rasulullah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. termasuk dalam beramal. Jika ingin dawam perhatikan prinsip keseimbangan dan jika tidak diperhatikan maka yang timbul adalah perasaan bosan, tidak suka, bahkan membenci.

Kalau kita menyukai sebuah amal, apabila terjadi kondisi diluar kebiasaan dan menjadi hambatan. Janganlah kita menunda untuk menjalankan esok harinya, tapi lakukanlah sesempat dan sesegera mungkin, agar tidak mengurangi haknya atau kewajibannya dihari esok, sebagaimana yang diajarkan oleh sahabat-sahabat dahulu.

 

2. Memprioritaskan amal yang manfaatnya luas bagi orang banyak dibanding amal yang manfaatnya terbatas.

 Rosulullah pernah bersabda:

“Seseorang yang keluar dari rumahnya dengan tujuan membantu meringankan beban saudaranya, itu lebih baik dibandingkan i’tikaf di Masjid Nabawi selama satu bulan.”

Sebagaimana riwayat yang sering kita dengar. Pada saat Allah memerintahkan malaikat untuk mengazab suatu kaum, namun ketika ingin mengazab kaum itu malaikat melihat ada ada seorang sholeh yang beriman yang rajin beribadah. Lalu malaikat melaporkan dan menyampaikan hal tersebut kepada Allah, namun perintah Allah untuk mengazab malah dimulai dari orang sholeh tersebut, hal ini karena kesholehan dan ibadah serta amal yang dimiliki dan dilakukan hanyalah dilakukan untuk dirinya dan tidak untuk orang banyak.

Dari kisah ini kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran bawasanya penting untuk menjalankan sebuah amal yang bermanfaat, namun yang lebih penting lagi adalah menjalankan amal yang manfaatnya luas bagi orang banyak dibanding amal yang manfaatnya terbatas.

Dari Hadist

   خير ا لناس انفعهم لناس  “Sebaik-baik manusia adalah yang bermafaat bagi orang lain.”

Kita belajar menjadi orang yang penuh kemanfaatan bagi orang disekitar kita, bukan hanya kemanfaatan untuk diri sendiri.

Ibarat sebuah serangga, jadilah seperti lebah yang hidupnya penuh dengan kebaikan dan kemanfaatan. Lebah memakan dan mengambil apa-apa yang baik yaitu sari bunga, tanpa merusak bunga-bunga yang dihinggapi dan diambil sarinya. Dan lebahpun menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi sekitar. Bunga-bunga yang dihinggapi terbantu dalam proses penyerbukannya dan manusia pun bisa memanfaatkan madu yang dihasilkan untuk berbagai macam keperluan. Itulah filosofi lebah yang bisa diambil hikmahnya.

 

3. Memprioritaskan amal yang manfaatnya panjang atau lama dibanding amal yang manfaatnya singkat atau pendek

 Pada saat manusia meninggal terputuslah segala amal mereka kecuali tiga hal: Amal Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh.

Hal ini seperti yang diriwayatkan dalam hadist

Dari Abi Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw : “Apabila mati anak Adam , maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara : Shadaqoh zariah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya.”

Oleh karenanya, memprioritaskan amal yang kemanfaatannya panjang menjadi hal penting untuk diperhatikan, karena amal-amal tersebut menghasilkan kebaikan yang panjang pula bagi kita.

4. Memprioritaskan amal-amal hati dibanding amal-amal yang sifatnya dzohir atau fisik.

 Kita ketahui bersama bahwasanya proses-proses dakwah yang dilakukan Rosulullah 13 tahun pertama di Mekah lebih menitikberatkan atau memprioritaskan kepada penguatan-penguatan amal hati berupa penanaman dan pengajaran aqidah (keimanan). Hal ini dilakukan karena Rasulullah menyadari betapa pentingnya amal hati berupa keyakinan dari pada amal-amal dalam bentuk dzohir atau hal-hal yang tampak.

Berbeda nilai sebuah amal dan kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang yang beraqidah Islam dengan yang bukan Islam. Sebaik apapun amal-amal yang dilakukan oleh orang-orang selain Islam walaupun itu tampak baik dan didasari niat baik, namun tetap saja kebaikan tersebut tidak dapat bermanfaat baginya di akhirat kelak.

Amal-amal hati menjadi penting karena hal tersebut erat kaitannya dengan sesuatu yang tidak orang lain ketahui, namun hanya pelaku dan Allah yang tahu.

Berinfak penting dan menimbulkan kemanfaatan, namun seandainya hal itu tidak diniatkan dengan benar maka akan sia-sialah amal itu.

Berjihad dijalan Allah itu penting dan bermanfaat, namun seandainya tidak ikhlas dilakukan maka amal itu akan sia-sia.

Menuntut ilmu penting dan bermanfaat, namun seandainya jika tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh maka amal itu akan sia-sia.

Berdakwah kepada kepada kebiakan itu penting dan bermanfaat, namun seandainya diringi dengan sikap sombong, riya dan takaburpun akan menyebakan amal itu sia-sia.

“Jauhilah prasangka-prasangka buruk  (perasaaan su’udzon) karena aka merusak semua amal-amal kita.”

 

5. Memprioritaskan amal sholeh disaat banyak fitnah

 Kita bisa mengambil kaidah ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud, yang isinya tentang siapa yang berkomitmen disaat-saat sulit, ibarat orang yang menggenggam bara, maka pahalanya setara dengan lima puluh orang sahabat.

Maksud sahabat disini adalah sahabat rosul.

Begitu istimewanya melakukan amal sholeh disaat banyak fitnah dunia yang mengelilingi, namun balasan Allah sungguh terbaik, krena hal tersebut disejajarkan dengan pahala yang dilakukan oleh lima puluh orang sahabat Rosulullah.

Sedikit ilmu yang didapat dari pertemuan kuliah di Mahad Al Hikmah bersama Ustadz Abdul Muis, mudah-mudahan ada pelajaran dan ilmu yang bisa amalkan. Mohon koreksi seandainya ada kesalahan atau hal yang tidak sesuai. Semoga Allah senantiasa memberkahi setiap ilmu yang kita dapatkan.

Wallahua’lam.

Jakarta, 5 Juli 2010 

@ HO- ADM- SUNTER

_cu_


Aksi

Information

2 responses

30 05 2011
21 05 2012
Skala Prioritas Amal

[…] sumber     Related Posts […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: