Kepedulian Kami

13 04 2011

“Kasihanilah diri, yang hidup bergelimang prasangka lantaran menganggap orang lain berprasangka dan dusta. Kasihanilah diri, yang menganggap diri paling benar dalam berjamaah dan menganggap orang lain yang berjuang dengan wasilah lain lebih hina. Kasihanlah diri yang tiada henti sibuk membela diri akan masukan2 yang hadir padanya”. Inilah kepedulian Kami.

Kbanyakan kita berpendapat dan menganggap bahwasanya pernyataan2 yang disampaikan oleh orang2 yang peduli pada jamaah ini sebagai cercaan dan hujatan. Namun kbanyakan dari kita juga ternyata bukannya berintropeksi diri akan maksud2 yang disampaikan.

Kadang pula kita sebagai kesatuan dalam jamaah menganggap orang lain berprasangka, tapi tahukah kita bahwasanya dengan kita menganggap mereka berprasangka dan membuat fitnah kepada kita, secara tidak langsung kitapun telah berprasangka. Kadang juga tanpa sadar ikut menghujat, bahkan Memfitnah.

DIMANA KHUSNUDZON SESAMA MUSLIM YANG DIAJARKAN ROSUL KITA…!!!!

Jamaah ini memang bukan jamaah malaikat, melainkan jamaah manusia. Namun juga tidak selamanya bersembunyi atas nama kelemahan jamaah manusia dan tidak mau mengakui akan kesalah dan ke khilafan, lantas melakukan pembenaran, bukan mengangkat kebenaran.

Kerja-kerja dakwah yang dilakukan memang sukses ditangan individu tertentu,namun jangan menganggap diri paling hebat lantas menganggap semua keberhasilan yang terjadi atas usaha sendiri. Mengkultuskan satu individu lantas menghujat individu yang lain. SIAPA KITA..? SIAPA ANDA..?

Kerja dakwah butuh pembuktian nyata, bukan sekedar kata2. Berkata kepada yang lainnya “Lihat nanti siapa yang berhasil dan kita buktikan nanti”. Mungkin benar, tapi apakah harus disampaikan seperti itu..? Dengan wasilah ini kita berusaha merealisasikan dan menebar kemanfaatan, bukan menebar kata2 indah apalagi hujatan. Ini cuma wasilah jangan sampai merusak asholah.

Bila bicara soal kebaikan, ia indah. Namun bila sekedar bicara apalagi mencibir bisa jadi sebaliknya. Jangan hanya bicara tentang kebaikan, bekerjalah untuk menyebarluaskan kebaikan dan memastikan manusia menjadi baik. Memperjuangkan kebaikan itu bertitik tolak daripada perjuangan iman, untuk Allah dan Rasulnya, bukan hanya untuk individu tertentu.

Mari kita berkaca kepada diri kita sendiri. Selama ini, pencarian yang kita lakukan terhadap berbagai ilmu syari’at dan hukum agama, apakah sudah mencapai standar niat yang selamat? Mencari kebenaran. Ataukah ternyata yang kita lakukan adalah kesesatan karena memperturutkan hawa nafsu? Mencari pembenaran. Pembenaran atas apa yang telah kita lakukan. Pembenaran atas kesalahan-kesalahan yang kita lakukan.

Jika kita mencari pembenaran, maka kita mencari pembenarnya dalam syari’at dengan keyakinan kuat terlebih dahulu atas apa yang kita ketahui kebenarannya. Ibarat seorang yang sedang bimbang menerima pinangan seseorang, melakukan istikharah padahal dirinya sudah yakin akan menolak pinangan tersebut.

Jika kita mencari pembenaran, maka amal pasti telah mendahului ilmu. Kita telah melakukan sesuatu lalu merasa ada yang agak aneh atas amal kita tersebut. Ada yang mengatakan salah sehingga dengan perkataan seorang syaikh yang dekat kita memperoleh jawaban yang kita inginkan.

Jika kita mencari pembenaran, maka kebenaran yang kita temukan dalam syari’at akan kita tawar. Dengan dalil logika, dengan dalil fiqh waqi’, dengan dalil mashalih mursalat. Padahal ilmu ushul telah menetapkan urutan prioritas pengambilan hukum fiqh.

Wallahua’lam.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: