Untukmu Sahabat

31 10 2010

Cinta itu letaknya di hati dan hati itu milik Allah. Tak mngkin kita dapat mnyentuh hati sseorang tanpa izin Allah dan jika Allah tidak mengkehendaki. Tidak patut kita serahkan hati kita yang dimiliki Allah itu kepada orang lain untuk dikuasai atau diperintah. Bahkan memang spatutnya kita serahkan jiwa dan raga kita sluruhnya kpd Allah. Adapun rasa cinta yang lahir sesama manusia itu hanya jalan menuju cinta Allah.

Jnganlah sekali2 qt menukarkan 7an cinta di hati yg spatutnya untk Allah kpd manusia hnya krn qt dpt mlihat kcantikn mnusia dan qt tdk dpt mlihat Allah. Qt hnya dpt mrasa dan mlihat kcantikn sgala ciptaan-Nya. Qt lupa dan slalu tdk sdar hakikat sgala keindahan itu adl milik Allah. Mka jdikanlah cinta kpd manusia itu sb…g jln menuju Tuhan, Bukan pengakhiran destinasi cinta. Maka qt akan lebih tenang menjalani semuanya.

Iklan




Malu

5 08 2010

“Sesungguhnya Allah swt. apabila hendak membinasakan seseorang, dicabutnya dari orang itu sifat malu. Bila sifat malu telah dicabut darinya, engkau akan mendapatinya dibenci orang, malah dianjurkan supaya orang benci padanya, kemudian bila ia telah dibenci orang, dicabutlah sifat amanah darinya. Jika sifat amanah telah dicabut, kamu dapati ia menjadi seorang pengkhianat. Jika telah menjadi pengkhianat, dicabutnya sifat kasih sayang. Jika telah hilang kasih sayangnya maka jadilah ia seorang yang terkutuk. Jika telah menjadi
orang terkutuk, maka lepaslah tali Islam darinya.” (HR. Ibnu Majah)





Berbuat yang Terbaik

2 08 2010

Dalam pentas kehidupan, selalu ada pegiat kebaikan. Mereka memberi tanpa pamrih. Mereka pun berlomba untuk bisa menjadi yang paling bermanfaat. Berusaha memberi dengan yang terbaik.

Namun, tidak semua yang baik adalah yang terbaik. Tapi yang seharusnya terjadi adalah, kebaikan harus mengejar, bukan dikejar. Dan yang menarik, ia selalu bersama dengan yang membutuhkan, walaupun orang tak menganggap keberadaannya.

so, Berbuatlah yang terbaik.





Fenomena 1

24 06 2010

Banyak dari kita yang seharusnya memfokuskan perhatian diri terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan orang banyak. Bahasa gaulnya “ummat”. Apalagi yang notabene sebagai orang menyeru dan mengajak kepada baikkan (baca: da’i). Tapi fenomena yang terlihat dan banyak terjadi saat ini adalah banyaknya da’i yag fokus perhatian mereka terpecah pada masalah-masalah individu dan pribadi. Mungkin masalah yang dihadapi setiap individu itu adalah hal yang penting, tapi yang penting saat ini bukan berarti mendesak dan harus disegerakan.

Sebagai contoh, adanya aktifis dakwah kampus yang lebih sering berkumpul membahas hal-hal seputar ta’aruf, walimah, dan kondisi berumah tangga. Padahal secara jelas mereka saat ini belum mampu untuk merealisasikan hal tersebut dan hanya menjadi bahasan. Saat inipun kondisi yang dituntut kepadanya adalah adanya tanggung jawab mereka kepada orang tua mereka untuk menyelesaikan studinya. Dan mungkin klo mereka memiliki amanah-amanah di lembaga yang ada, pastilah merekapun dituntut untuk dapat menjalankan amanah-amanahnya dengan baik, bukannya membiarkan semuanya berantakan hingga menimbulkan masalah lainnya.

Apalagi klo kita melihat aktifis2 dakwah sekolah sekarang. Sebut saja mereka anak2 SMA. secara jelas pastilah kesiapan mereka tidak lebih baik dibanding kakak2nya di dakwah kampus. Dan juga mereka harus mengutamakan amanah2nya kepada orang tua mereka serta menjalankan amanah2 yang ada di sekolah. Tapi yang terlihat saat ini adalah begitu sensitifnya mereka dengan hal2 yang terkait dengan manikah (walimah). Sedikit disinggung masalah proposal langsung terlintas dan celetukkan mereka yang keluar adalah hal2 yang kearah sana (walimah).
Entah apa penyebabnya mengapa demikian. (::Tapi itu bukan yang menjadi bahasan saat ini)

Yang menjadi masalah saat ini karena tidak fokusnya perhatian da’i-da’i tersebut kepada masalah jamaah dan cenderung melupakan kewajiban-kewajiban yang ada di pundaknya.

Banyak terlihat disekitar kita da’i-da’i yang lebih fokus dan serius membahas hal2 yang berkaitan dengan lawan jenis dan indahnya kehidupan-kehidupan berumah tangga. Namun pada kenyataannya hal tersebut hanya menjadi bahasan-bahasan yang sulit direalisasikan karena memang mereka yang membahas tidak cukup serius untuk meningkatkan tahapan bahasan itu kearah dan wilayah amal. Walhasil hal tersebut belum dapat direalisasaikan dan amanah-amanah, tanggung jawab, dan masalah-masalah jamaah tidak mendapatkan hal yang semestinya.

Tidak ada yang sia-sia memang membicarakan hal yang baik, namun bagi seorang da’i dan penyeru kebaikan bukan itu yang seharusnya menjadi fokus mereka, tetapi bagaimana seharusnya setiap hal yang dilakukan menjadi bermanfaat, efektif dan berkualitas. Karenanya mulailah prioritaskan apa-apa yang menjadi tanggung jawab dan beban yang ada di pundak untuk diberikan haknya dan diselesaikan. Dan untuk sesuatu yang pasti akan datang dipersiapkanlah dengan sebaik-baiknya tanpa melupakan hal yang menjadi prioritas saat ini.

Yusuf Qordowi mengatakan dalam bukunya “Fiqih Prioritas” dalam salah satu kaidah tentang dakwah: hendaklah kita “Mengetahui kadar kondisi darurat dari sebuah amal/masalah.”
Dengan demikian hal-hal yang sifatnya penting dan mendesak (darurat) harus segera didahulukan dibandingkan dengan hal yang penting namun tidak mendesak. Sekarang tinggal kita yang mempertimbangkan mana yang lebih harus disegerakan untuk dijalankan dan mana yang mungkin bisa nanti dikerjakan. Apakah kita lebih memilih menjalankan amanah-amanah dan tanggungjawb kita yang mempunyai pengaruh kepada kondisi diri pribadi, orang tua, jamaah dan ummat, ataukah kita hanya sekedar fokus membahas hal-hal yang penting tadi namun blm bisa direalisasikan..?

Wallahua’lam.

_Sudut HO ADM, 24 Jun’10_
_cu_